AKU DI PERKOSA TETANGGA SAAT LAGI MASAK DI DAPUR

Cerita Sex - Hallo nama aku Rindy Amarta,setelah menikah aku langsung mengikuti suami tinggal di ibu kota jakarta. Sebagai pegawai negeri sipil suamiku hanya bisa kontrak rumah petak untuk tempat kita berteduh dan memiliki alamat untuk pulang. Sangat beda rasanya rumah di kota asalku salatiga dimana hubungan antar manusia masih demikian kental dan saling manusia memanusiakan antara satu terhadap yang lain. Sementara di jakarta yang aku rasakan pertemuan antar manusia semata - mata lebih didorong oleh adanya kebutuhan duniawi. Hubungan akan berarti baik apabila seseorang bisa memberikan manfaat dunia lebih besar dari yang lain.
Di jakarta orang lebih berhitung pada masalah jumlah dengan mengorbankan mutu. Kalau aku bisa memberi lebih banyak dari yang lain berarti aku lebih baik dari yang laun, dan pantas menerima sikap hormat yang lebih tinggi dari yang lain. Demikianlah suamiku yang dosen Universitas Negri yang notabene pegawai negeri dengan embel - embel lr. di depan namanya plus MM di belakangnya tak mampu meraih penampilan dan nilai yang layak di tengah masyarakat di sekitarku.
Keluarga mas heri yang jaga penjaga gudang di daerah cakung yang mengontrak petak di sebelah kanan rumahku lebih memiliki nilai karena tampilan dunianya jauh lebih dari tampilan kita. Itulah kenyataan metropolitan yang hingar bingar dan gegap gempita ini. Kebutuhan mandi, cuci, dan kakus kita berhimpitan hanya di batasi oleh selembar gedek yang rawan bolong - bolong. Hanyasikap morallah yang membatasi kita dalam arti yang lebih jauh. Bagi kita khususnya bagi aku dan dik nayma (istri mas heri).
Suami kita masing - masing sibuk dengan kerjaannya. Bedanya kalau suamiku, Mas andre, seharian siang dia gak ada di rumah, sementara kalau dik nayma seharian malam suaminya jaga gudang di Cakung. Antara para suami kita praktis jarang jumpa berpapasan karena waktu kesibukkannya yang terbalik. Sementara kita para istri juga kesibukan melayani suaminya jatuh pada waktu yang berbeda.
Sebagai istri mudah, dik nayma baru keluar dari kamarnya menuju ke sumur baru sekitar jam 11 siang. Tentu dia harus siap melayani berbagai kebutuhan suaminya yang baru pulang setiap jam 6 pagi itu. Dan aku sendiri sebagaimana yang lain bercengkerama dengan suamiku pada malam harinya sepulang dari pekerjaanya. Kemungkinan penyimpangan hanya terjadi pada saat - saat tertentu, misalnya salah satu dari pasangan di antara kita ada yang sakit atau berpergian atau karena sebab yang lain. Suasana seperti itu juga terjadi di keluarga tetangga sekitar kita.
Pada pagi hari rata - rata sepi. Anak - anak mereka pergi kesekolah dan para suami hampir seharian penuh mencari sandang pangan. Sudah 5 hari dik nayma pulang ke desa nya dengan maksud menjemput adiknya untuk di ajak membantu di jakarta. Kulihat mas heri menyiapkan sendiri segala kebutuhan sehari - harinya yang mulai dia lakukan sekitar jam 10 atau 11 pagi, seusai tidur sepulang jaga malam. Dia mencuci pakaiannya, membersihkan rumah. mencuci perabot dapur dan sebagainya. Mau tak mau aku sering berpapasan di seputar sumur yang memang kita pakai berdua keluarga. Walaupun begitu kita jarang saling bicara. Aku lebih senang begitu. Aku takut omongan tetangga yang gampang usil.
Mas heri hampir seharian selalu berpakaian minimum dengan alasan udara jakarta yang panas. Dia selalu hanya bercelana pendek dan melepas bajunya. Aku suka mencuri pandang postur badannya yang cukup tinggi nampak kekar berotot, sesuatu hal yang memang di perlukan untuk tugas semacam penjaga gudang dan semacamnya. Pagi itu aku sedang masak di dapurku yang sempit, panasnya udara jakarta memaksa aku sendiri mondar tmandir di dapur dan sumur hanya menggunakan kutang dan kain yang kuikatkan seenaknya. Tiba - tiba mas heri muncul di pintu, mbakyu dasimah, aku mau minta tolong sedikit nih' sambil terus menyelonong memasuki rumahku. Aku kaget, mau apa dia. Kulihat wajahnya kemerahan dengan matanya yang seperti kucing lapar melihat ikan asin menatap mataku. Aku merasakan sesuatu yang gak begitu enak. Adakah yang sangat penting sehingga dia harus masuk ke rumahku tanpa permisi lebih dahulu ? Antara khawatir dan ingin menolong tetangga aku bangun berdiri mengikuti langkahnya ; ada apa mas heri ? aku melihat matanya yang semakin menakutkanku.
Jangan marah, ya mbak. Masalahnya aku benar - benar gak tahannih. Dik nayma kan sudah 5 hari pulang kampung. Aaaaa.... kkkuuuu.... mmmmm... sorry ya mbak tadi pagi saat pulang jaga malam aku mendengar mbak dan mas andre masih di kamar sedang asik *deg, hatiku*. Kenapa mas heri teganya ngomong begitu padaku. Aku gak sempat berpikir lebih jauh saat dengan serta merta dia meraih badanku dengan tangannya yang kua membungkam mulutku kemudian beringsut merebahkan aku ke kasur kamarku yang memang hanya terpisah oleh dinding gedek dapurku. Dengan sigapnya dia jejalkan gombal dari kantongnya ke mulutku yang aku rasa sudah dia siapkan sebelumnya. Kemudian dengan kekuatan ototnya di telikungnya tangan ku untuk dia ikatkan ke ranjangku. Aku langsung di landa ketakutan yang amat sangat. Aku ingat suamiku, ingat anak keluargaku. Mungkinkah mas hery membunuhku ? Tetapi justru ketakutan ku itulah yang membuatku lemas dan langsung menyerah, "mbak dasimah gak usah takut, aku gak nyakitin mbak kok, aku hanya perlu sebentar".
Aku sudah pingin banget nih. Tadi pagi saat mas andresasaat menyebadani mbak dasimah aku ngintip dari balik dinding, dia berbisik dengan tajam di telingaku untuk menyakinkan bahwa aku gak akan disakitinya, aku gak tahan mbak, tolongin aku, mbak.. dia langsung merangsek buah dada ku dengan buasnya. Aku melawan karena hal semacam ini tak pernah sama sekali terbit dalam pikiranku dan bayanganku. 'Aku benar gak tahan mbak, tolongi aku mbak' kini ketiakku dia ruyaki sambil menyedoti dan menciumi habis - habisan dengan tanganku yang terikat, sisa tenagaku sama sekali gak sebanding dengan penjaga gudang berotot ini. Dengan kasar penuh nafsu kain penutup badanku dia tarik dan lepasi dengan mudahnya. Tangannya yang kasar dan kokoh itu langsung mengelusi - elusi paha ku. Kemudian dengan cepat juga jari - jarinya menyeruak kemaluanku. Aduh, gak pernah terpikir olehku akan ada lelaku selain suamiku yang menyentuh barang kehormatanku in. Aku tak begitu saja bisa menerima kenyataan ini. Aku menangis pilu walaupun hanya air mata ku saja yang menampakkan tangisku.
Aku menggeleng - gelengkan kepalaku tanda penolakanku akan perbuatan mas heri ini. Aku anggap dia sudah berlaku sangat tak menghormati aku, suamiku, dan keluargaku. Aku sangat takut akan aib yang akan menimpah kita, tetapi mas heri terus membisiki aku "Tenang mbak dasimah, gak apa apa, jangan takut, gak akan ada yang bakalan tau, hanya kita berdua saja yang tau, aku berjanji untuk seumur hidupku hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja" benarkah ? penjaga gudang ini teernyata memang lihay. Benar atau tak kata - katanya itu ternyata mampu memberikanku kesejukkan, setidaknya melerai rasa takutku akan kemungkinan dia melukai atau menyakiti badanku. seakan aku memilih pilihan, melawan dengan resiko dia bertindak brutal dengan menyakiti aku atau menyerah pasrah dengan resiko aku harus mengikuti dan memenuhi permintaanya dan menyadari akan keterbatasanku saat ini pilihan kedua akan memberikan padaku keselamatan fisikku. Hal - hal lain soal nantilah, yang penting aku selamat terlebih dahulu.
Kini aku mulai merasakan secara rinci apa yang sedang dan kemungkinan akan dia lakukan padaku. Jari - jarinya yang terus menari- nari di kemaluanku terasa sangat menggelikkan saraf - saraf peka birahiku. Aku mulai merasakan kenikmatan. Aku merasakan jari - jari mas heri sangat pintar membangkitkan kehausan birahiku. Melihatku bersikap menyerah dan pasrah dia semakin ganas melumati ketiak yang kemudian melata bergeser ke leherku kemudian juga melata bergeser ke leherku kemudian juga tepian kupingku. "Mbak dasimah, mbak dasimah sangat cantik sekali, aku tadi pagi mengintip mbak yang sedang di gauli mas andre, oh mbak aku tidak tahan melihat wajah mbak yang menggelinjang menerima kenikmatan dari mas andre. Sekarang mbak mesti nyobain kenikmatanku'' aku sudah tau itu kemaluannya. Rasa pasrah dan menyerahku hanya memberikan aku satu pilihan, nikmatilah. Dan aku mencoba kenikmatannya.
Saat mas heri terus mendesakkan kemaluannya dengan cara mendorong menaik turunkan badannya memompakan kemaluannya ke kemaluan ku dengan refleks yang aku miliki, aku menjemputinya. Aku memutar mutar bokongku kemudian menarik turunkannya untuk menjemput kemaluanya. Aku merasa mulai gatal di lubang kemaluanku, aku merasakan mulai mengalirnya cairan birahiku dan itu juga langsung di ketahui oleh mas heri yang semakin cepat dan keras mendesakkan kemaluannya ke kemaluanku. Tanpa ayal lagi, akhirnya seluruh batang kemaluan mas heri tenggelam di lahap kemaluanku. Hoooohhhh, aku menduga bahwa aku akan mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa di pagi hari ini. Kemaluan mas heri yang berada dalam terkaman kemaluanku keluar masuk menggelitiki dinding- dinding peka kemaluanku. Aku menggelinjang, mendesah dan merintih lirih. Aku ikut memompa mengimbangi pompaan mas heri. Mas heri menatapku sesaat, sementara kemaluannya terus memompa kemaluanku.
Kemudian dia lepaskan sumpal mulutku untuk selanjutnya dia daratkan bibirnya ke bibirku. Kita saling melumat, Aku merasa sangat kehausan, lepas dari sumpal itu sungguh melegakan, dan kini sikapku adalah ingin memberikan sepenuhnya kepuasan kepada mas heri. Aku sudah memasuki gerbang nafsuku sendiri. Aku juga ingin meraih madunya paksaan dan pemerkosaan dia di atasku. Aku melumat habis - habisan mulutnya. Aku hisap - hisap lidahnya, aku sedoti ludahnya. Aku mengerang dan meracau. Mas heri, maafin aku ya...., aku tadi takut banget...,, mas heri,, uuuhhh... kamaluanku enakk banget.... Mas heri, sorryin mbak dasimah ya.... mas...,,, terusshhh,,, enak banget.." dann heri terus memompakan kemaluannya ke kemaluanku dengan mantap sekali. Kita sudah meraih irama senggammaan bersama. Kita sedang mengejar kepuasannya. Kini tak ada kagu pemerkosaan, yang ada adalah kesepakatan bersama untuk meraih puncak nikmat birahi.
Keringat mulai membanjir dari badan - badan kita. Mas heri menggejot dan aku menjemput, kakiku kunaikkan ke pundaknya hingga kemaluan mas heri terasa mentok menyentuh rahimku. Nikmat yang ku rasakan sungguh luar biasa. Dari penyebab awalnya dimana norma sopan dan adab tak lagi dijadikan batasan membuat aku juga bisa berlaku seenakku, kini ku renggut kepala mas heri, ku dekatkan ke wajahku dan ku enyoti bibirnya sambil ku jambaki rambutnya. Kemaluanku yang gatal semakin gak ketolongan membuat aku jadi buas, binal dan liar tak sebagaimana saat aku bersenggama dengan suamiku selama ini. Aku menggelinjang - gelinjang dengan sangat hebatnya. Aku berteriak histeris tertahan sebagai wujud pelampiasan nafsu birahiku yang tak terkendali ini. Aku ingin di puaskan sejadi - jadinya. Aku berguling dengan rambutku yang sudah terurai dari ikatannya dan dengan keringat yang semakin membasah mengucur dari badanku aku tumpakin badan mas heri. Aku desakkan habis - habisan kemaluanku ke kamaluannya untuk menggaruk lebih keras kegatalan di dalamnya. Aku sangat gelisah dan resah menunggu hadirnya orgasmeku.
Setiap kali aku mendongak dan menyibakkan rambutku kemudian kembali menunduk histeris. Tangan - tanganku mencekal gumpalan dada mas heri hingga kuku- kukuku menancap dalam ke dagingnya. Rasa gatal yang sangat mendesaki kemaluanku, aku tahu bahwa tak akan lama cairan birahiku akan tumpah ruah, aku sudah demikian lupa diriku.
Akhirnya kita sama - sama mencapai kepuasan puncak kita. Cairan hangat yang menyemprot dari kemaluan mas heri kedalam kemaluanku langsung di sambut dengan muntahan berlimpah cairan birahi kemaluanku. Aku langsung tersungkur sementara kedutan - kedutan kemaluan mas heri belum sepenuhnya usai. Aku masih melamun dalam penyesalan mas heri bangkit dari ranjangku. Dia mencium keningku dann berlalu kudengar bisikan terima kasih dari bibirnya. Saat aku ingin sekali lagi menangkap untuk mengecupnya dia sudah hilang di balik pintu.
Siang itu aku tak masak, rasa penat di sekujur badanku terasa membuat aku bermalasan sepanjang hari itu. Saat mas andre pulang, kulihat dia membawa bungkusan plastik di tangannya. Dia membawa mie goreng dan fuyunghai kesukaanku. Seakan aku melupakan apa yang sudah terjadi siang tadi, kini aku duduk makan bersama suamiku dengan perasaan penuh galau. Pada mas andre aku sampaikan keinginanku untuk beberapa waktu aku pulang mudik. Aku bilang sudah kangen sama sanak family salatiga. Mas andre menatap mataku. Dia berusaha membaca relung hatiku. Dia setuju aku pulang. Dia menyadari bahwa aku masih dalam proses adaptasi dalam menyelami kehidupan jakarta.
Dia akan menjemputku saat kembali ke jakarta nanti. Rupanya permintaanku pulang dia sambut dengan sebuah rencana yang memberikan kejutan bagiku. Sesudah barang tiga minggu dengan penuh rindu, aku menunggu jemputan mas andre, tiba - tiba dering telponku berbunyi "suami"(mas andre). Dia bilang bahwa dia tidak bisa menjemputku karena kesibukan di kampusnya. Tetapi dia sudah mengirimkan 5 lembar tiket garuda yang bisa aku ambill di kantor garuda semarang. Dia minta supaya aku mengajak serta kedua orang tua ku dan 2 orang adikku yang sedang libur sekolah.
Sesuai dengan hari yang di tetapkan mas andre menjemputku di bandara soekarno hatta dengan sebuah kijan baru. Aku heran ternyata mas andre bisa mengendarai mobil pembeliannya tanpa sepengetahuanku, yang paling hebat dari mas andre adalah saat mobil kijan ini tak meluncur ke rumah yang kukenal sebagai rumah kita selama ini. Melalui jalan tol jagorawi mas andre membawa mobil ke perumahan komplek dosen di cibubur. Kits memasuki rumah baru yang besar dan luas, Segala barang - barang dari rumah yang sudah di pindahkan seluruh ke rumah ini baru ini.
Aku melihat bagaimana orang tuaku dan adik - adikku menyambut gembira atas limpahan rejeki dan rahmat kepada kita. Di depan mereka mas andre merangkul aku dan mencium pipiku yang ku sambut dengan separuh hangat hatiku. Aku membulatkan tekadku untuk sepenuhnya mengabdi dan mendukung segala usaha dan karier suamiku.
situs judi online aman dan terpercaya di indonesia.


0 Comments